May 12, 2013

Saya Lebih Suka Pakai Kata Allah

by Leonardo Rimba Kedua (Notes) on Sunday, May 12, 2013 at 12:03pm

Saya lebih suka pakai kata Allah daripada kata Tuhan, kata Joko Tingtong. Tuhan artinya Tuan, bahasa Inggrisnya Lord. Kalau yg anda maksud God, pakailah kata Allah. Allah dikonsepkan oleh otak manusia. Otak manusia berpikir, lalu mulutnya bilang ada Allah. Menurutnya Allah menciptakannya. Itulah yg namanya konsep. Sama saja seperti konsep tentang hidup setelah mati. Sebagian orang tidak sadar bahwa apa yg dibayangkannya akan dijumpainya setelah mati adalah hasil pemikiran orang lain. Ada yg mengkonsepkan juga. Hasil pemikiran manusia hidup yg juga belum pernah mati. Kalau yg asli hasil laporan orang mati, belum ada sampai sekarang. Ada juga kisah Yesus, tapi itu termasuk kepercayaan. Dipercaya. Buktinya tidak ada. Kalau terbukti orang mati bisa hidup lagi dan cerita, maka baru bisa dipercaya. Semua konsep setelah mati di dalam agama-agama adalah hasil pemikiran manusia.

Menurut Joko, tidak bermanfaat membicarakan apa yg akan kita temui setelah mati. Bicarakan saja apa yg kita temui ketika hidup. Disini, saat ini.

Agama dikonsepkan sebagai "diturunkan". Diturunkan pakai apa? Pakai tambang? Makanya, karena kita semua tahu agama adalah konsep, maka kita memilih untuk berbagi pengalaman spiritual pribadi. Nyata dan tidak diawang-awang. Pengalaman anda adalah pengalaman anda, tidak bisa dibilang benar atau salah. Kalau pemikiran keagamaan, ujung-ujungnya kita akan bilang yg mana konsep up to date, dan yg mana konsep kedaluwarsa.

Pagi ini seorang wanita yg tidak pernah dikenalnya tiba-tiba menghubungi Joko Tingtong. Status menikah, usia 34 tahun. Selama 11 tahun menikah, 7 tahun pertama dipenuhi oleh kisah perselingkuhan sang suami. Tiga tahun terakhir ini suami sudah tobat, tetapi sang istri mulai beraksi. Dan tanya, apakah itu aib?

Joko jawab, bukan. Semuanya normal saja, biasa saja. Pernikahan bukanlah perbudakan, tiap orang bebas untuk selingkuh dengan siapa saja. Kalau pasangan merasa tidak suka, silahkan menggugat cerai. Kalau suka, teruskanlah. Selingkuh bukan kriminal. Bukan perbuatan pidana. Yg dirugikan kalau anda selingkuh adalah pasangan resmi anda, yaitu suami atau istri anda. Orang lain tidak dirugikan. Dan kalau suami atau istri anda tidak terima, maka bisa menggugat cerai. Kalau bisa terima, ya sudah. Jalan terus saja. Cukup banyak juga yg seperti itu.

Wanita ini mengaku sudah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pria yg bukan muhrimnya. Pernah dengan bule juga, pedahal bule barangnya gede. Wanita ini bertanya, kenapa ketika suaminya sendiri selingkuh dia bisa bersabar dan diam saja; tetapi kini ketika suaminya tobat, dia sendiri yg mulai selingkuh.

Joko jawab, it's very normal, karena kita manusia, bukan robot. Kita perlu waktu untuk mencerna pengalaman kita. Kita perlu belajar mengamati orang yg selingkuh, sebelum kita sendiri menceburkan diri ke lembah perselingkuhan. Dan belum tentu itu akan berlangsung selama-lamanya. Sebagian orang bosan setelah selingkuh bertahun-tahun, sebagian lagi tidak bosan-bosannya.

Selingkuh bukan kejahatan karena dilakukan atas dasar suka sama suka. Yg kejahatan adalah perkosaan karena dilakukan dengan pemaksaan. Kalau sukarela, maka itu bukan kejahatan, bukan kriminal, bukan pidana. Terror terhadap pelaku selingkuh cuma dilakukan di hotel-hotel melati, yg dikunjungi oleh mereka yg anggarannya terbatas. Di hotel-hotel bintang lima tidak pernah dilakukan razia surat nikah. Razia begituan cuma diterapkan untuk orang-orang kelas menengah bawah, yg memang selalu penuh ketakutan. Orang-orang kelas menengah atas tidak ketakutan seperti itu. Mereka tahu bisa ML dengan siapa saja, asal suka sama suka.

Joko bilang: Anda milik diri anda sendiri! Pernikahan tidak membuat anda menjadi budak. Anda bukan milik suami anda, dan suami anda bukan milik anda. Anda tetap milik diri anda sendiri, bisa melakukan apapun yg anda ingin lakukan. Kalau suami anda tidak suka dengan apa yg anda lakukan, biarkan saja dia menggugat cerai.

Segala macam salah kaprah dilestarikan di Indonesia, seolah-olah merupakan kejahatan berhubungan sex kalau tidak diikat dalam hubungan pernikahan. Pedahal bukan kejahatan. Merupakan urusan pribadi masing-masing, privasi tiap orang, baik untuk berhubungan sex dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Yg merupakan kejahatan adalah pemaksaan. Memaksa istri atau suami sendiri untuk berhubungan sex juga termasuk kejahatan. Berhubungan sex dengan anak di bawah umur (17 tahun ke bawah) juga termasuk kejahatan. Apabila anda sudah masuk kategori dewasa, dan anda berhubungan sex dengan anak berusia 15 tahun, misalnya, maka anda berbuat kejahatan, namanya melakukan hubungan sex dengan anak di bawah umur. Pada pihak lain, sesama anak di bawah umur yg melakukan hubungan sex tidak bisa diapa-apakan. They are just horny.
Wanita bersuami yg berhubungan sex dengan suami orang juga tidak bisa disalahkan. Baik wanita maupun pria yg terlibat tidak bisa disalahkan apabila perbuatan itu dilakukan atas dasar suka sama suka. Mereka tidak melanggar hukum. Kita yg berpendidikan harus mulai berbicara dan menulis apa adanya. Jangan histeris, jangan kampungan, ini abad ke 21 M, sudah tidak pantas kita melestarikan salah kaprah. Think clearly, it's part of spirituality too! Kita tidak menghakimi mereka yg selingkuh. Saya tidak mendorong dan tidak pula menghalangi, kata Joko Tingtong. Karena ini merupakan bagian dari privasi orang, suka-suka orang. Tentu saja konsekwensinya ditanggung sendiri. Bukan darma dan karma, tapi aksi dan konsekwensi.

Ada satu kabar gembira bagi teman-teman kita yg homosex ataupun lesbian, Joko menambahkan. Sebentar lagi anda akan bisa menikah secara resmi dengan pasangan sex sejenis di Australia.

Beginilah situasi dan kondisi di negara beradab. Agama tidak menjadi kendala sama sekali. Itu sudah lewat. Laki-laki dan perempuan bisa menikah tanpa memperdulikan latar belakang agama. Yg sekarang menjadi kendala adalah pernikahan sejenis kelamin atawa yg di Indonesia dikenal sebagai jeruk makan jeruk. Negara pertama satu dunia yg melegalkan pernikahan sejenis adalah Belanda, yaitu mantan penjajah kita yg sangat liberal. Sekarang teladan Belanda sudah diikuti oleh puluhan negara, termasuk Spanyol yg mayoritasnya Katolik. Di Amerika Serikat (AS), sebagian negara bagian sudah melegalkan pernikahan sejenis. Dan ini tidak berarti orientasi seksual anda dipatok mati, karena anda tetap bisa menikah dengan lawan jenis. Jadi, bisa saja pernikahan pertama dengan lawan jenis, lalu cerai. Pernikahan kedua dengan sejenis. Cerai lagi. Dan menikah untuk ketiga kalinya dengan lawan jenis. Itu bisa.

Di Belanda, AS, Australia dan negara-negara maju lainnya istilah pluralisme tidak populer. Istilah yg dipakai disana adalah multiculturalism, artinya penerimaan semua latar belakang budaya sebagai bernilai setara. Baik dari Indonesia, Malaysia, Cina, Perancis, Portugal, Iran, India, Jepang, Belanda, Polandia, Israel dll... semuanya setara. Multiculturalism di-indonesia-kan sebagai multikulturalisme. Menurut Joko, multikulturalisme bukan pluralisme, tetapi lebih jauh lagi. Pluralisme itu istilah keagamaan sebenarnya, digunakan untuk berbagai aliran dalam satu agama. Dalam kehidupan sekuler kemasyarakatan, kita tidak pakai istilah pluralisme, melainkan multikulturalisme.
Tetapi orang Indonesia penuh salah kaprah. Bahkan istilah pluralisme di Indonesia juga salah kaprah. Mungkin dulu dipopulerkan oleh Gus Dur, maksudnya supaya ada penerimaan terhadap berbagai aliran berbeda di dalam tiap agama. Itu saja belum beres, masih ada diskriminasi, pembedaan antara aliran "benar" dan aliran "sesat". Multukulturalisme tidak lagi bicara tentang pluralisme karena semua orang tahu berbagai aliran keagamaan merupakan urusan suka-suka. Maksudnya, suka-suka orang. Bisa pakai apapun yg orang suka, tanpa perlu memberikan alasan apapun. Itu soal taste, selera. Selera pribadi, tidak dicampuri oleh orang lain.

Tetapi di Indonesia segalanya terbalik. Masih banyak yg merasa berhak untuk memaksakan selera pribadi ke orang lain. Makanya pluralisme digalakkan. Kayak anjing, ada istilah galak.

Joko meneruskan menulis. Selama bertahun-tahun saya sudah mencontohkan habis-habisan bagaimana caranya berbagi. Berbagi artinya menceritakan pengalaman pribadi, pemikiran pribadi. Tetapi nampaknya itu susah sekali dilakukan oleh orang Indonesia. Mungkin karena orang Indonesia sejak kecil sudah dipaksa jadi robot. Bisanya membeo saja. Mengulangi apa yg sudah diucapkan oleh orang lain. Dan itu kita bisa ubah! Bisa kita ubah sekarang juga. Caranya, just do it! Lakukanlah!

Kita tidak bisa balik lagi ke masa lalu. Tidak bisa napak tilas konflik antara Hindu-Budha dan Islam, contohnya. Dunia sekarang sudah tidak pakai agama. Bahkan tidak pakai budaya. Yg ada cuma penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap orang berhak atas privasinya masing-masing. Tidak pantas ada pemaksaan kepercayaan oleh negara maupun masyarakat. Pemaksaan budaya juga tidak pantas.

Pemahaman tentang multikulturalisme berhubungan dengan tingkat peradaban. Di negara-negara beradab, agama tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk menikah, misalnya. NKRI ini termasuk negara tidak beradab karena masih memiliki UU yg bilang perkawinan adalah antara manusia berbeda jenis kelamin yg beragama sama. Itu UU yg relatif baru juga sebenarnya, dibuat di tahun 1974 oleh Rejim Suharto, dan sampai saat ini masih berlaku. Tadinya di Indonesia tidak begitu. Tadinya lebih beradab, artinya orang bisa menikah dengan siapa saja, asalkan tidak terikat hubungan pernikahan dengan pihak lain. Agama tidak menjadi penghalang.

Para penganut agama yg membatasi diri sendiri hanya mau menikah dengan yg seagama tentu saja tidak akan menjadi masalah. Itu urusan pribadi. Yg tidak boleh adalah menerapkan UU negara yg membatasi perkawinan hanya antara mereka yg seagama saja. Merupakan hak asasi manusia untuk menikah dengan siapa saja tanpa membedakan SARA. Kalau membedakan artinya melecehkan HAM. Sekarang negara-negara beradab sudah banyak yg melegalkan perkawinan antara sesama lelaki, dan antara sesama perempuan. Perkawinan homosex dan perkawinan lesbian. Sedangkan Indonesia masih berkutat pada perkawinan seagama.

Joko percaya, apapun agamanya, kalau budayanya masih budaya budak, tidak akan membawa perubahan. Cara tercepat dan terampuh menghapuskan budak di dalam diri anda adalah dengan kawin campur. Kawin campur dengan manusia-manusia yg bukan budak. Itu dilakukan di masa lalu (dan masa sekarang) oleh orang Indonesia yg menikah dengan orang luar. Terutama dengan bule. Ciri-ciri budak langsung hilang di keturunannya.

Lima ratus ribu orang Indo di Belanda adalah keturunan Indonesia. Sekarang sudah menyebar di seluruh dunia. Jutaan peranakan Cina adalah keturunan Indonesia, sudah menyebar juga ke seluruh penjuru dunia. Secara prinsip, Indo-Belanda dan peranakan Cina bukanlah budak. Mereka termasuk orang-orang keturunan Indonesia yg pertama-tama melepaskan ciri-ciri perbudakan. Dengan cara kawin campur.

Kalau sudah campuran keturunan macam-macam, kita tidak akan terperangkap dalam jebakan Batman berupa aspirasi menjadi mercusuar dunia. Untuk anda yg belum tahu, mitos Indonesia mau jadi mercusuar dunia dipopulerkan oleh Bung Karno dengan proyek-proyek mercusuarnya, al: Gelora Bung Karno, Hotel Indonesia, Toserba Sarinah, Hotel Samudera Beach, Hotel Sanur Beach, dan Tugu Monas. Tugu Monas itu simbol dari Indonesia secara keseluruhan, dan bukan lambang kota Jakarta saja. Beberapa bulan lalu, Joko memperoleh penglihatan Tugu Monas jatuh. Bukan runtuh, tetapi jatuh.

Jatuh terbalik ke arah Selatan. Maknanya wallahualam.

Joko tidak percaya Indonesia akan kembali bisa menjadi pemimpin di Asia Tenggara. Kemungkinan besar, mulai saat ini sampai entah kapan Indonesia akan menjadi buntut Australia, yg letaknya memang di Selatan. Walaupun cuma berpenduduk 22 juta orang, Australia adalah partner abadi Amerika Serikat (AS) di kawasan ini. Indonesia cuma mampu jadi buntut.

Mercusuar dunia adalah negara-negara yg penduduknya menggunakan otak. AS, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Belanda, Australia, Cina! Anda jangan harap Indonesia akan jadi mercusuar dunia dalam sekejap begitu Sabdo Palon muncul kembali. Sabdo Palon itu simbol, bukan orang yg datang terbungkuk-bungkuk dengan tongkat dan blangkon!

Secara spiritual, Indonesia tidak punya pemimpin sejak Bung Karno keluar dari istana. Semua gubernur jendral Belanda tinggal di istana. Bung Karno juga tinggal di istana. Sejak Bung Karno, dan Gus Dur dalam waktu yg sangat singkat, tidak ada lagi yg berani tinggal di istana. Istana Merdeka dan Istana Bogor ternyata angker. Cuma pemimpin asli yg berani tinggal disana. Bung Karno berani, sama seperti para gubernur jendral Belanda. Yg lainnya takut. Mereka tahu diri, bukan pemimpin asli.

Negara ini disatukan oleh Belanda, energinya berasal dari simbol Belanda. Dan simbol itu berarti keterbukaan, pemikiran rasional, kejujuran, sikap hemat dan segala macam yg positif.  Belanda mau membebaskan agar orang Indonesia merasa sederajat. Tetapi otak kawula negara kolonial Hindia Belanda tidak sampai. Yg sampai bisa melihat itu cuma orang terdidik seperti M. Hatta. Bahkan Hatta ditawarkan untuk menjadi anggota parlemen Belanda di Den Haag. Tetapi Sukarno kebakaran jenggot!

Ada semacam teori konspirasi disini. Pertentangan antara Sukarno yg melihat ke belakang, cupat dan arogan. Dan Hatta yg melihat ke depan, berpandangan luas, rasional dan manusiawi. Kalau anda selama ini sudah mengambil spirit dari Sukarno, cobalah sekarang ambil dari Hatta. Jangan dianggap M. Hatta cuma pendamping Sukarno. Tidak begitu. Sukarno harus pegang Hatta karena Hatta adalah prototype manusia terdidik. Manusia internasional. Diterima dimana-mana. Tidak kesetanan, bahkan oleh ide nasionalisme.

Kita tahu segalanya menjadi amburadul ketika Sukarno menunjuk dirinya sendiri menjadi presiden seumur hidup. Ada konsep Demokrasi Terpimpin yg disempurnakan di jaman Orde Baru dengan nama Demokrasi Pancasila. Sejak masa-masa kegelapan itu, kita kehilangan tradisi liberal kita. Kita lupa, bahwa kita mewarisi tradisi demokrasi dan liberalisme dari Belanda. Yg menyatukan Sabang sampai Merauke adalah liberalisme, perdagangan bebas, penghormatan terhadap hak-hak individu. Dulu cuma sedikit demi sedikit bisa diperkenalkan oleh Belanda karena masyarakat kita masih terlalu terbelakang. Sekarang, kalau mau, kita bisa mengunyah sendiri semuanya. Belajar sendiri.
Lihatlah ke Belanda. Mereka konsisten dari dahulu sampai sekarang. Tidak ada rasisme, tidak ada diskriminasi. Beda jauh dengan salah kaprah yg dipaksakan kepada kita. Belanda tidak seperti itu, tidak sejahilliyah itu. Belanda membebaskan semuanya sehingga kita siap bergabung dengan satu dunia beradab. Tidak langsung tentu saja, tetapi sedikit demi sedikit. Semakin lama kita semakin mengerti bahwa kita sudah dipersiapkan. Hari ini kita sudah jadi seperti orang Belanda 200 tahun lalu, mungkin. Tahun depan kita akan jadi orang Belanda 100 tahun lalu. Tahun depannya lagi kita jadi orang Belanda 50 tahun lalu. Dan tahun depannya lagi kita akan jadi seperti orang Belanda saat ini.

No comments:

Post a Comment